Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Nyantri di Hotel Prodeo Kelas IIB Selong

Jumat, 13 Februari 2026 | Februari 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T02:05:07Z

 

 

Ngaji: Warga binaan Lapas IIB Selong sedang mengikuti pengajian di aula (foto/istimewa)


 

SELONG - Ruang-ruang sempit Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong, tak lagi terasa sesak. Bukan karena berkurangnya tahanan, melainkan dada yang semakin lapang.

 

Warga binaan sebutan penghuni Lapas itu, tengah berdamai dengan dirinya. Tempat mereka tinggal itu, merupakan bagian dari suratan takdir yang tengah dijalani.

 

Berpakaian seadanya menghadap ke Tuhan. Berkeluh kesah, menengadah tangan berdoa untuk kebaikan diri dan keluarga.

 

Usai melaksanakan solat berjamaah, mereka tak lagi kembali ke sel. Melainkan mereka duduk melingkar, melantunkan ayat suci Al Quran.

 

Suara-suara mereka, menembus tembok ratapan yang selama ini dialami. Sembari memperbesar harap, kerajaan langit turun memayungi hati yang tengah menebus kesalahan.

 

Masing-masing menggenggam mushaf, membaca dan memperbaiki tajwid dalam bimbingan petugas dan pembina.

 

Pemandangan itu kini menjadi rutinitas harian di lapas. Lokasi ini nampak seperti pondok pesantren, layaknya para santri yang menempuh pendidikan.

 

“Menurut hemat saya, ketika kita menyebut mereka santri, secara psikologis itu berpengaruh," kata Kepala Lapas Kelas IIB Selong, Sudirman, Kamis (12/02/2026).

 

Langkah ini kata dia, membuat warga binaan termotivasi untuk belajar, khususnya yang menyangkut soal agama. Dirinya mengaku, merinding saat melihat mereka melantukan ayat suci Al Quran.

 

Perubahan penyebutan ini, paparnya, bukan sekadar istilah. Ada harapan besar yang dititipkan di baliknya.

 

Dengan identitas baru sebagai santri, para warga binaan diharapkan merasa memiliki tanggung jawab moral.

 

“Kalau tidak sholat, tidak mengaji, mereka akan malu dengan statusnya sebagai santri. Itu motivasi yang ingin kami bangun,” katanya.

 

Program pembinaan berbasis pendekatan keagamaan ini diterapkan kepada seluruh penghuni lapas. Melalui kegiatan tahsin, kajian keislaman, hingga kelas bahasa Arab, Lapas Selong berupaya menghadirkan suasana pesantren di balik jeruji.

 

Program one day one juz turut digalakkan, agar dalam sebulan para santri bisa mengkhatamkan Alquran. Tidak hanya saat ramadan, tetapi juga dalam keseharian.

 

Tidak menutup kemungkinan, kata dia, warga lapas ada juga yang tidak bisa membaca Al Quran. Dengan pola baru ini mereka bisa belajar bersama.

 

Menurut Sudirman, respons para warga binaan sangat positif. Antusiasme terlihat setiap kali kegiatan berlangsung.

 

“Baru sebulan berjalan, tapi semangat mereka luar biasa. Rasanya merinding melihat mereka selesai sholat langsung mengambil Alquran dan mengaji minimal 10 menit setiap hari,” ucapnya kembali.

 

Pendekatan ini menjadi penting, terutama mengingat sebagian besar penghuni Lapas Selong merupakan kasus narkotika, yang didominasi oleh pengguna.

 

Melalui pembinaan spiritual, pihak lapas berharap tumbuh kesadaran dari dalam diri mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

 

Pembinaan di Lapas Selong tidak berhenti disitu, melainkan didapati juga program kemandirian menjadi pilar utama. Beragam pelatihan keterampilan diberikan, mulai dari cuci mobil, laundry, sablon, hingga barbershop.

 

Pihaknya ingin mereka punya bekal ketika keluar nanti. Misalnya, kata dia, barbershop bisa dilakukan di mana saja yang penting ada gunting, kain, dan cermin.

 

"Di pasar-pasar juga bisa,” jelas Sudirman.

 

Keterampilan tersebut diharapkan menjadi jalan bagi para santri untuk mencari nafkah halal setelah bebas nanti. Lebih dari itu, Sudirman menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menerima mereka kembali.

 

Ia menyadari, stigma kerap menjadi tembok kedua yang lebih sulit ditembus dibanding jeruji besi. Keluarnya dari lokasi ini bisa membuat mereka minder dan merasa tidak dihargai.

 

Karena itu, ia mengajak semua pihak, termasuk media dan masyarakat, untuk ikut ambil bagian dalam proses reintegrasi sosial.

 

Para mantan warga binaan perlu dirangkul, diajak terlibat dalam kegiatan masyarakat, agar merasa dihormati dan memiliki tempat.

 

“Kalau mereka merasa dihargai, insyaallah itu akan berimplikasi pada tidak mengulangi lagi tindak pidana,” ujarnya.

 

Bagi Sudirman, pembinaan bukan semata tugas lapas, melainkan tanggung jawab bersama. Dari balik tembok Lapas Selong, ia sedang menanam harapan bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua, dan bahwa perubahan bisa dimulai dari sebuah panggilan santri.

 

"Semoga ini awal, agar warga binaan nanti sepenuhnya berubah dan tidak mengulangi kesalahannya," harapnya. (ospintb)

×
Berita Terbaru Update