![]() |
| Ngaji: Warga binaan Lapas IIB Selong sedang mengikuti pengajian di aula (foto/istimewa) |
SELONG - Ruang-ruang sempit Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
Kelas IIB Selong, tak lagi terasa sesak. Bukan karena berkurangnya tahanan,
melainkan dada yang semakin lapang.
Warga binaan sebutan penghuni Lapas itu, tengah berdamai
dengan dirinya. Tempat mereka tinggal itu, merupakan bagian dari suratan takdir
yang tengah dijalani.
Berpakaian seadanya menghadap ke Tuhan. Berkeluh kesah,
menengadah tangan berdoa untuk kebaikan diri dan keluarga.
Usai melaksanakan solat berjamaah, mereka tak lagi kembali
ke sel. Melainkan mereka duduk melingkar, melantunkan ayat suci Al Quran.
Suara-suara mereka, menembus tembok ratapan yang selama ini
dialami. Sembari memperbesar harap, kerajaan langit turun memayungi hati yang
tengah menebus kesalahan.
Masing-masing menggenggam mushaf, membaca dan memperbaiki
tajwid dalam bimbingan petugas dan pembina.
Pemandangan itu kini menjadi rutinitas harian di lapas.
Lokasi ini nampak seperti pondok pesantren, layaknya para santri yang menempuh
pendidikan.
“Menurut hemat saya, ketika kita menyebut mereka santri,
secara psikologis itu berpengaruh," kata Kepala Lapas Kelas IIB Selong,
Sudirman, Kamis (12/02/2026).
Langkah ini kata dia, membuat warga binaan termotivasi untuk
belajar, khususnya yang menyangkut soal agama. Dirinya mengaku, merinding saat
melihat mereka melantukan ayat suci Al Quran.
Perubahan penyebutan ini, paparnya, bukan sekadar istilah.
Ada harapan besar yang dititipkan di baliknya.
Dengan identitas baru sebagai santri, para warga binaan
diharapkan merasa memiliki tanggung jawab moral.
“Kalau tidak sholat, tidak mengaji, mereka akan malu dengan
statusnya sebagai santri. Itu motivasi yang ingin kami bangun,” katanya.
Program pembinaan berbasis pendekatan keagamaan ini
diterapkan kepada seluruh penghuni lapas. Melalui kegiatan tahsin, kajian
keislaman, hingga kelas bahasa Arab, Lapas Selong berupaya menghadirkan suasana
pesantren di balik jeruji.
Program one day one juz turut digalakkan, agar dalam sebulan
para santri bisa mengkhatamkan Alquran. Tidak hanya saat ramadan, tetapi juga
dalam keseharian.
Tidak menutup kemungkinan, kata dia, warga lapas ada juga
yang tidak bisa membaca Al Quran. Dengan pola baru ini mereka bisa belajar
bersama.
Menurut Sudirman, respons para warga binaan sangat positif.
Antusiasme terlihat setiap kali kegiatan berlangsung.
“Baru sebulan berjalan, tapi semangat mereka luar biasa.
Rasanya merinding melihat mereka selesai sholat langsung mengambil Alquran dan
mengaji minimal 10 menit setiap hari,” ucapnya kembali.
Pendekatan ini menjadi penting, terutama mengingat sebagian
besar penghuni Lapas Selong merupakan kasus narkotika, yang didominasi oleh
pengguna.
Melalui pembinaan spiritual, pihak lapas berharap tumbuh
kesadaran dari dalam diri mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pembinaan di Lapas Selong tidak berhenti disitu, melainkan
didapati juga program kemandirian menjadi pilar utama. Beragam pelatihan
keterampilan diberikan, mulai dari cuci mobil, laundry, sablon, hingga
barbershop.
Pihaknya ingin mereka punya bekal ketika keluar nanti.
Misalnya, kata dia, barbershop bisa dilakukan di mana saja yang penting ada
gunting, kain, dan cermin.
"Di pasar-pasar juga bisa,” jelas Sudirman.
Keterampilan tersebut diharapkan menjadi jalan bagi para
santri untuk mencari nafkah halal setelah bebas nanti. Lebih dari itu, Sudirman
menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menerima mereka kembali.
Ia menyadari, stigma kerap menjadi tembok kedua yang lebih
sulit ditembus dibanding jeruji besi. Keluarnya dari lokasi ini bisa membuat
mereka minder dan merasa tidak dihargai.
Karena itu, ia mengajak semua pihak, termasuk media dan
masyarakat, untuk ikut ambil bagian dalam proses reintegrasi sosial.
Para mantan warga binaan perlu dirangkul, diajak terlibat
dalam kegiatan masyarakat, agar merasa dihormati dan memiliki tempat.
“Kalau mereka merasa dihargai, insyaallah itu akan
berimplikasi pada tidak mengulangi lagi tindak pidana,” ujarnya.
Bagi Sudirman, pembinaan bukan semata tugas lapas, melainkan
tanggung jawab bersama. Dari balik tembok Lapas Selong, ia sedang menanam
harapan bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua, dan bahwa perubahan
bisa dimulai dari sebuah panggilan santri.
"Semoga ini awal, agar warga binaan nanti sepenuhnya
berubah dan tidak mengulangi kesalahannya," harapnya. (ospintb)
