Ini Alasan Jaksa Menuntut Kalapas Kalianda 20 Tahun Kurungan


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Jaksa Penuntut Umum Rosman Yusa, Pengganti Jaksa Andri Kurniawan dipersidangan di Pengadilan Negeri Kelas 1A, Tanjungkarang menuturkan, Berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan, Jaksa sependapat jika terdakwa memenuhi unsur Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Terdakwa, Kata Yusa tanpa hak atau melawan hukum, melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan 1 dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya lebih dari 5 gram. Unsur melakukan percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor telah terbukti berdasarkan fakta persidangan, dimana terdakwa telah mempermudah atau mendorong dilakukannya kejahatan oleh orang lain. Marzuli Yunus merupakan narapidana dalam kasus narkotika bebas memiliki dan menggunakan ponsel selama di dalam Lembaga Pemasyarakatan, termasuk dengan leluasa mendapatkan kebebasan menerima kunjungan tamu diluar jam kunjungan atas persetujuan dari terdakwa melalui komunikasi aplikasi Whatshap antara Marzuki dengan terdakwa. Fasilistas lain yang diberikan oleh terdakwa diantaranya juga Marzuli diberi kemudahan surat berobat tanpa melalui pemeriksaan klinik Lapas Kalianda. Selanjutnya surat berobat tersebut disalahgunakan oleh Marzuli untuk pulang kerumah dengan pengawalan petugas Lapas, dan atas kejadian tersebut petugas Lapas yang mengawal Marzuli yaitu saksi Sumaryo melaporkan kejadian tersebut kepada terdakwa namun terdakwa tidak memberikan reaksi bahkan tidak melakukan tindakan apapun. Selain fasilitas tersebut, terdakwa beberapa kali menemui Marzuli di selnya termasuk juga di ruang kerjanya, termasuk juga terdakwa tidak melakukan tindakan ketika saksi Sutarjo melaporkan adanya temuan narkotika dan ponsel di kamar Marzuli. Menurutnya, atas kemudahan dan fasilitas yang didapatkan tersebut terdakwa mendapatkan imbalan baik berbentuk uang maupun barang yang diterima baik langsung maupun tidak langsung oleh terdakwa berupa transfer berdasarkan bukti rekening koran milik terdakwa yaitu berupa sejumlah uang. Uang itu dikirim melalui SMS banking yang dilakukan oleh Marzuli dari dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kalianda dengan menggunakan rekening atas nama Komala Sari, ke rekening atas nama terdakwa. "Rekening-rekening tersebut oleh terdakwa pergunakan untuk menerima transfer dari Napi atas nama Marzuli YS, seperti transfer tanggal 22 Maret 2018 yang diterima terdakwa ke rekening Tahapan BCA senilai Rp5 juta, Rp2 juta hingga Rp10 juta," kata Jaksa.





Share